Pernahkah kalian merasakan penyesalan? Seberapa dalam rasa sesal itu menjangkiti? Bisakah kalian memperbaiki sumber penyesalan tersebut? Atau, apakah semuanya sudah terlambat, tak ada lagi yang dapat dilakukan, semua telah usai? Jika kalian belum mengenal penyesalan terdalam, perkenalkan, aku Ainun Najma. Seorang gadis yang akan menceritakan kepada kalian, sebuah penyesalan yang mutlak tak terperbaiki. Aku sangat menikmati hidupku, ya, hidup di dunia maya. Seperti kebanyakan muda-mudi di berbagai belahan dunia, aku memiliki identitas kuat di media sosial. Orang-orang menyebutku "selebgram." Jumlah pengikutku (followers) mencapai ribuan, dan tawaran kerja sama merek (endorsement) selalu datang. Ini menjadikanku sosok yang perfeksionis; apa pun yang kulakukan harus terlihat sempurna dan menuai pujian. Dalam dua puluh empat jam, sebagian besar waktuku kuhabiskan duduk di depan layar komputer untuk menyunting foto, atau sekadar berbaring sambil membagikan isi pikiran di story Instagram. Sebagai selebgram, itulah tugasku. Aku tidak boleh membiarkan media sosialku tenang. Aku harus membagikan foto, video, bahkan pertanyaan-pertanyaan acak kepada pengikut agar interaksi akun semakin tinggi, dan aku menjadi lebih terkenal. Aku adalah anak bungsu dari empat bersaudara, dan semua kakakku sudah menikah. Kini, aku tinggal bertiga dengan Ayah dan Ibu. Suatu sore aku bercakap-cakap dengan kakak perempuan pertamaku, yang rumahnya tak jauh dari orang tuaku. “Najma, urus Ayah dan Ibu dengan baik. Kamu anak bungsu, lho,” ucap sang kakak. “Najma mengurus mereka, kok!” jawabku tak terima. “Iya, kamu mengurus semua keperluan mereka, tapi perhatianmu, matamu, selalu tertuju pada ponsel!” Percakapan itu kini baru terngiang jelas. Semuanya benar-benar terlambat. Kejadian ini tidak pernah ada dalam skenario hidup yang kubuat. Semua terjadi begitu cepat, sekejap, dan membinasakan. Apakah kalian sudah dapat menebaknya? Kecelakaan hebat menimpa kendaraan orang tuaku. Mobil itu tertabrak tronton besar yang membawa tiang listrik gelondongan. Tiang-tiang berat itu langsung menimpa mobil mereka. Kecelakaan maut itu merenggut nyawa orang tuaku dengan kejam! Aku berpikir hidup orang tuaku masih lama di dunia ini. Aku berpikir masih banyak waktu yang bisa kuhabiskan bersama mereka. Aku berpikir semua akan berjalan baik-baik saja. Tapi sekarang, mereka dibaringkan di dalam tanah! Tempat yang gelap, sepi, dingin, dan menakutkan. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Menangis dan menyesali kegiatanku yang selalu mengabaikan orang tua, menyibukkan diri dengan media sosial, tidak akan bisa membuat mereka bangun! Belum sempat aku memperhatikan mereka secara serius, belum sempat aku merekam suara mereka, belum sempat aku memotret wajah mereka. Aku terlampau sibuk dengan duniaku yang maya. Aku beramah-tamah dengan banyak orang di media sosial, namun mengabaikan orang tuaku sendiri. Peristiwa itu membuatku nyaris gila! Sebuah rasa sesal yang sudah tidak dapat diperbaiki. Makanan terlezat di dunia sekalipun tidak akan kulirik. Tubuhku kurus kering, kantung mataku membengkak dan menghitam, pandangan mataku buram karena air mata yang tak pernah mengering. Menerima kenyataan bahwa aku seorang yatim-piatu membutuhkan waktu yang sangat lama! Belum lagi menghadapi kerasnya kehidupan yang kekejamannya kalian tahu sendiri, tanpa ada sosok orang tua. Mungkin masalah akan selalu menerpa, kesedihan akan datang lalu lalang, tetapi bukan itu intinya. Ini tentang penyesalan! Tentang ingatan yang datang secara tiba-tiba, menghantam, dan tak pernah mau pergi.
Sastra Islam
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bahaya Adiksi Media Sosial: Kisah Selebgram yang Terlambat Menyadari Makna Bakti kepada Orang Tua
Maslakhudin Latif
109 Dilihat3 MIN. BACA
Ringkasan Artikel
Selebgram Ainun Najma sangat menikmati kehidupan sempurnanya di media sosial, mengabaikan peringatan untuk lebih memperhatikan orang tuanya. Prioritas yang salah ini harus dibayar mahal: orang tuanya tewas dalam kecelakaan maut, meninggalkannya dengan penyesalan mutlak dan tak terperbaiki karena terlambat menyadari nilai sebuah kehadiran.
Bagikan Artikel:
Ruang Diskusi
Tanggapan Pembaca1
Sampaikan pandangan, pertanyaan, atau hikmah secara santun dan bijak.
I
@irfab
1
tes bagus